BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan
memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Salah satunya sebagai media
yang berfungsi menjadikan manusia lebih baik dari sebelumnya. Peran penting
lainnya adalah untuk memenusiakan manusia.
Akan
tetapi, pada kenyataaan sebagian orang hanya memahami secara garis besar
hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan. Beberapa hanya
mengetahui pendidikan sebagai sarana belajar, terutama sarana belajar dalam bidang
akademis. Sehingga pengertian pendidikan secara mendasar kurang dipahami.
Maka
dari penulisan makalah ini, dapat diketahui pengertian pendidikan secara
mendasar, baik pengertian secaraa luas atau sempit. Selain itu dibahas
pengertian pendidikan baerdasarkan pandekatan ilmiah dan pendekatan sistem.
B. Rumusan Masalah
Supaya
dalam pembahasan dan penulisan makalah ini lebih terarah dan mudah untuk
dipahami, maka penulis merumuskan masalah-masalah,yaitu sebagai berikut :
1. Apa
pengertian pendidikan dalam arti luas?
2. Apa
pengertian pendidikan dalam ati sempit?
3. Apa
pengertian pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah?
4. Apa
pengertian pendidikan berdasarkan sistem?
C. Tujuan Makalah
Adapun
tujuan dari penulisan makalah yaitu:
1. Mengetahui pengertian
pendidikan dalam arti luas?
2. Menetahui pengertian
pendidikan dalam ati sempit?
3. mengetahui
pengertian pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah?
5. Mengetahui
pengertian pendidikan berdasarkan sistem?
D. Ruang Lingkup
Pembuatan
makalah yang penulis lakukan hanya difokuskan pada pengertian pendidikan secara
mendasar baik secara luas dan sempit, pengertian pendidikan berdasarkan
pendekatan ilmiah, pengertian pendidikan berdasarkan sistem.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
pendidikan dalam arrti sempit
Pendidikan
dalam arti mikro (sempit) merupakan proses interaksi antara pendidik dan
peserta didik baik di keluarga, sekolah maupun di masyarakat.Namun pendidikan
dalam arti sempit sering diartikan sekolah (pengajaran yang di selenggarakan
disekolah sebagai lembaga pendidikan formal, segala pengaruh yang di upayakan
sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai
kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan
tugas-tugas sosial mereka). Dalam arti sempit, pendidikan memiliki
karakteristik sebagai berikut:
1. Tujuan
pendidikan dalam arti sempit ditentukan oleh pihak luar individu peserta didik.
Sebagaimana kita maklumi, tujuan pendidikan suatu sekolah atau tujuan
pendidikan suatu kegiatan belajar-mengajar di sekolah tidak dirumuskan dan
ditetapkan oleh para siswanya.
2. Lamanya
waktu pendidikan bagi setiap individu dalam masyarakat cukup bervariasi,
mungkin kurang atau sama dengan enam tahun, sembilan tahun bahkan lebih dari
itu. Namun demikian terdapat titik terminal pendidikan yang ditetapkan dalam
satuan waktu.
Pendidikan dilaksanakan di
sekolah atau di dalam lingkungan khusus yang diciptakan secara sengaja untuk
pendidikan dalam konteks program pendidikan sekolah. Dalam pengertian sempit,
pendidikan hanyalah bagi mereka yang menjadi peserta didik (siswa/mahasiswa)
dari suatu lembaga pendidikan formal (sekolah/perguruan tinggi). Pendidikan
dilaksanakan dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar yang terprogram dan
bersifat formal atau disengaja untuk pendidikan dan terkontrol. Dalam
pengertian sempit, pendidik bagi para siswa terbatas pada pendidik profesional
atau guru.
1. Setiap
disiplin ilmu memiliki objek formal yang berbeda.
a. hasil
studi terhadap objek formalnya masing-masing, setiap disiplin ilmu menghasilkan
perbedaan pula mengenai konsep atau definisi yang identik dengan pendidikan.
b. Berdasarkan
pendekatan sosiologi, pendidikan identik dengan sosialisasi (socialization).
c. Berdasarkan
pendekatan antropologi, pendidikan identik dengan enkulturasi (enculturation).
d. Berdasarkan
pendekatan ekonomi, pendidikan identik dengan penanaman modal pada diri manusia
(human investment).
e. Berdasarkan
pendekatan politik, pendidikan identik dengan civilisasi (civilization).
f. Berdasarkan
pendekatan psikologis, pendidikan identik dengan personalisasi atau
individualisasi (personalization atau inividualization).
g. Berdasarkan
pendekatan biologi, pendidikan identik dengan adaptasi (adaptation).
B. Pengertian
pendidikan dalam arti luas
Sedangkan
pendidikan dalam arti makro (luas) adalah proses interaksi antara manusia
sebagai individu/ pribadi dan lingkungan alam semesta, lingkungan sosial,
masyarakat, sosial-ekonomi, sosial-politik dan sosial-budaya. Pendidikan dalam
arti luas juga dapat diartikan hidup (segala pengalaman belajar yang
berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Segala situasi hidup
yang mempengaruhi pertumbuhan individu, suatu proses pertumbuhan dan
perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan
lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir).
Jadi pendidikan dalam arti luas, hidup adalah pendidikan, dan pendidikan adalah hidup (life is education, and education is life). Maksudnya bahwa pendidikan adalah segala pengalaman hidup (belajar) dalam berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi pertumbuhan atau perkembangan individu.
Dalam arti luas, pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:
Jadi pendidikan dalam arti luas, hidup adalah pendidikan, dan pendidikan adalah hidup (life is education, and education is life). Maksudnya bahwa pendidikan adalah segala pengalaman hidup (belajar) dalam berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi pertumbuhan atau perkembangan individu.
Dalam arti luas, pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.
Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup individu, tidak ditentukan oleh
orang lain.
2. Pendidikan
berlangsung kapan pun, artinya berlangsung sepanjang hayat (life long
education). Karena itu pendidikan berlangsung dalam konteks hubungan individu
yang bersifat multi dimensi, baik dalam hubungan individu dengan Tuhannya,
sesama manusia, alam, bahkan dengan dirinya sendiri.
3.
Dalam hubungan yang besifat multi dimensi itu, pendidikan berlangsung melalui
berbagai bentuk kegiatan, tindakan, dan kejadian, baik yang pada awalnya
disengaja untuk pendidikan maupun yang tidak disengaja untuk pendidikan.
4. Berlangsung
bagi siapa pun. Setiap individu anak-anak atau pun orang dewasa,
siswa/mahasiswa atau pun bukan siswa/ mahasiswa dididik atau mendidik diri.
5. Pendidikan
berlangsung dimana pun. Pendidikan tidak terbatas pada schooling saja.
Pendidikan berlangsung di dalam keluarga, sekolah, masyarakat, dan di dalam
lingkungan alam dimana individu berada. Pendidik bagi individu tidak terbatas
pada pendidik profesional.
C. Pengertian
pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah
Pendidik
karena kedudukannya, adalah seorang pengambil keputusan. Setiap hari pada waktu
melaksanakan proses pendidikan , pendidik dihadapkan pada tugas mngambil
keputusan tentang bagaimana merencanakan pengalaman belajar, mengajar,
membimbing mahasiswa, mengorganisasi sistem sekolah, dan banyak lagi hal – hal
yang lain.
1. Sumber-sumber
pendidikan.
a. Pengalaman.
Pengalaman
adalah sumber pengetahuan yang telah banyak diketahui dan digunakan orang.
Kearifan yang ditemukan dari generasi ke generasi merupakan hasil dari
pengalaman, apabila kita tidak mengambil manfaat ari pengalaman itu mungkin
kemajuan akan sangat terhambat. Kemampuan untuk belajar dari pegalaman sering
dianggap sebagai ciri utama dari perilaku cerdas manusia. Meskipun demikian,
sebagi sumber kebenaran, pengalaman mempunyai keterbatasan. Hal ini karena ada
tidaknya pengaruh suatu kejadian terhadap seseorang akan bergantung kepada
siapa orang itu. Kelemahan lain dari pengalaman ialah bahwa sering kali
seseorang perlu mengetahui hal – hal yang tidak dapat dipelajari/diketahui
lewat pengalamannya sendiri.
b. Otoritas
Otoritas
atau wewenang sering dijadikan orang dalam hal – hal yang sulit atau yang tidak
mungkin diketahui melalui pengalaman pribadi. Artinya, orang mencari jawab dari
pertanyaan itu dari orang lain yang telah mempunyai pengalaman dalam hal itu,
atau yang telah mempunyai sumber keahlian lainnya. Erat hubungannya dengan
wewenang adalah kebiasaan dan tradisi, yang kita jadikan pegangan guna menjawab
pertanyaan yang ada hubungannya dengan profesi kita maupun untuk memecahkan
masalah sehari – hari.
c. Cara
berfikir deduktif
Cara
berpikir deduktif dapat dirumuskan sebagai suatu proses berpikir yang bertolak
dari pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan yang bersifat khusus dengan
memakai kaidah logika tertentu. Hal ini dilakukan melalui serangkaian
pernyataan yang disebut silogisme, yang terdiri atas :
1) Dasar
pemikiran utama premis mayor
2) Dasar
pemikiran kedua (premis minor)
3) Kesimpulan
Contoh
silogisme :
Premis
pertama: Semua manusia adalah makhluk hidup (dasar pemikiran utama)
Premis
kedua : Socrates adalah seorang manusia
(dasar pemikiran kedua) oleh karena itu
Kesimpulan :
Socrates adalah makhluk hidup.
d. Cara
berfikir induktif
Kesimpulan
yang berasal dari cara berpikir deduktif hanya benar apabila premis yang
menjadi dasar kesimpulan itu benar. Francis Bacon (1561-1626), berpendapat
bahwa para pemikir hendaknya tidak merendahkan diri begitu saja dengan menerima
premis orang yang punya otoritas sebagai kebenaran mutlak. Bacon menyatakan
agar para pencari kebenaran mengamati alam secara langsung dan membersihkan
pikiran dari purbasangka dan gagasan-gagasan yang telah terbentuk sebelumnya,
yang disebutnya sebagai “pujaan” (idol).
Menurut
sistem Bacon, pengamatan dilakukan pada kejadian-kejadian tertentu di dalam
kelas. Kemudian, berdasarkan kejadian-kejadian yang diamati tersebut, ditarik
kesimpulan-kesimpulan tentang seluruh kelas. Pendekatan ini dikenal
sebagai cara berpikir induktif.
e. Pendekatan
ilmiyah
Pendekatan
ilmiah biasanya dilukiskan sebagai proses dimana penyelidikan secara induktif
bertolak dari pengamatan mereka menuju hipotesis. Kemudian secara deduktif
peneliti bergerak dari hipotesis ke implikasi logis hipotesis tersebut. Mereka
menarik kesimpulan mengenai kesimpulan mengenai akibat yang akan terjadi
apabila hubungan yang diduga itu benar. Apabila implikasi yang diperoleh secara
deduktif ini sesuai dengan pengetahuan yang sudah diterima dengan data
empiris (yang dikumpulkan). Berdasarkan bukti-bukti ini, maka hipotesis itu
dapat diterima atau ditolak.
Langkah-langkah
dalam pendekatan ilmiah:
1) Perumusan
masalah
Penyelidikan
ilmiah bermula dari suatu masalah atau persoalan yang memerlukan pemecahan.
Agar dapat diselidiki secara ilmiah, suatu persoalan harus mempunyai satu ciri
penting: persoalan tersebut harus dapat dirumuskan sedemikian rupa, sehingga
dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan di dunia ini. Persoalan-persolan
yang menyangkut pilihan atau nilai-nilai tidak dapat dijawab atas dasar
informasi faktual belaka.
2) Pengajuan
hipotesis
Langkah
berikutnya adalah merumuskan hipotesis yang merupakan penjelasan sementara
tentang masalah itu. Tahap ini mengharuskan penelitian membaca bacaan yang
berkaitan dengan masalah itu dan berpikir lebih mendalam lagi.
3) Cara
berfikir induktif
Melalui
proses berpikir deduktif, implikasi hipotesis yang diajukan itu, yaitu apa yang
akan dapat diamati jika hipotesis tersebut benar ditetapkan.
4) Pengumpulan
analisis data
Hipotesis
atau lebih tepatnya implikasi yang diperoleh melalui deduksi, diuji dengan
jalan mengumpulkan data yang ada hubungannya dengan masalah yang diselidiki
melalui pengamatan, tes dan eksperimentasi.
5) Penerimaan
atau penolakan hipotesis
Setelah
data dikumpulkan, maka hasilnya dianalisis untuk menetapkan apakah penyelidikan
memberikan bukti-bukti yang mendukung hipotesis atau tidak.
Contoh
pendekatan ilmiah :
Ada
dua macam logika yang dipergunakan disini, yaitu deduktif dan induktif.
Kesimpulan induktif dimulai dengan pengamatan mesin sehingga sampai pada
kesimpulan umum. Misalnya, jika sepeda motor itu melintasi gundukan tanah
kemudian mesinnya mogok, melintasi gundukan tanah lainnya kemudian mogok lagi,
dan ketika melintasi gundukan tanah lainnya kemudian mogok lagi, sedangkan
ketika melintasi jalan panjang yang halus, mesin tidak mengalami kemacetan
tetapi ketika melintasi gundukan tanah yang keempat mesin itu mogok lagi, maka
secara logis orang dapat menyimpulkan bahwa mesin itu disebabkan oleh gundukan
tanah. Itulah induksi : cara berpikir berdasarkan pengalaman – pengalaman
khusus menuju kebenaran umum. Sedangkan deduktif adalah sebaliknya.
Pemecahan
masalah yang terlalu rumit bagi orang awam dicapai melalui deretan panjang kesimpulan-kesimpulan
induktif dan deduktif yang menyelip diantara pengamatan mesin dan ingatan akan
urutan mesin yang terdapat di dalam buku pedoman. Proses yang benar bagi
jalinan ini dirumuskan sebagai metode ilmiah.
Pernyataan-pernyataan
logis yang dimasukkan ke dalam buku catatan dibagi menjadi:
1) Pengungkapan
masalah
2) Hipotesis
mengenai sebab masalah tersebut
3) Percobaan-percobaan
yang dirancang untuk menguji tiap-tiap hipotesis
4) Hasil-hasil
percobaan yang diramalkan
5) Hasil-hasil
percobaan yang dinikmati
6) Kesimpulan
yang ditarik dari hasil-hasil percobaan tersebut
Tujuan
metode ilmiah yang sebenarnya ialah untuk meyakinkan seseorang bahwa Alam tidak
menyesatkan, sehingga tak seorangpun merasa mengetahui sesuatu yang sebenarnya
tidak diketahuinya.
Pendekatan
yang berhati-hati terhadap pertanyaan-pertanyaan awal ini menjaga agar tidak
dilakukan kesalahan pokok yang dapat mengakibatkan kerja tambahan selama
berminggu-minggu atau bahkan dapat membuat seseorang terhenti sama sekali.
Karena itu, maka pertanyaan-pertanyaan ilmiah sering tampak mengada-ada.
Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dengan maksud mencegah terjadinya
kesalahan-kesalahan yang parah di kemudian hari.
D. Pengertian
Pendidikan Sebagai Sebuah Sistem
Pengertian
pendidikan sebagai sebuah sistem adalah pendidikan sebagai suatu keseluruhan,
baik teori mengenai sistem hingga sistem pendidikan nasional dan sekolah
(Suparlan: 2008). Menurut Banathy, teori sistem adalah suatu ekspresi yang
terorganisir dari rangkaian berbagai konsep dan prinsip yang saling terkait
yang berlaku untuk semua sistem. Terdapat dua kelompok pendekatan dalam
mendefinisikan sebuah sistem yaitu:
1. Pendekatan
Prosedur
Pendekatan
sistem yang lebih menekankan pada prosedur mendefinisikan sistem sebagai suatu
jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul
bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan
suatu sasaran tertentu.
2. Pendekatan
Komponen atau Elemen.
Pendekatan sistem yang lebih
menekankan pada komponen atau elemen sehingga sistem sebagai sekelompok
elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu
tujuan.
Sistem
memiliki klasifikasi yang dapat membedakan sistem yang satu dengan sistem yang
lain, klasifikasi dari sistem sebagai berikut:
1. Sistem
Abstrak dan Sistem Fisik.
Sistem
abstrak (abstract system) adalah sistem yang berisi gagasan atau konsep,
misalnya sistem teologi yang berisi gagasan tentang hubungan manusia dan tuhan.
Sedangkan sistem fisik (physical system) adalah sistem yang secara fisik dapat
dilihat, misalnya sistem komputer, sistem sekolah, sistem akuntansi dan sistem
transportasi.
2. Sistem
Deterministik dan Sistem Probabilisti.
Sistem
deterministik (deterministic system) adalah suatu sistem yang operasinya dapat
diprediksi secara tepat, misalnya sistem komputer. Sedangkan sistem
probabilistik (probabilistic system) adalah sistem yang tak dapat diramal
dengan pasti karena mengandung unsur probabilitas, misalnya sistem arisan dan
sistem sediaan, kebutuhan rata-rata dan waktu untuk memulihkan jumlah sediaan
dapat ditentukan tetapi nilai yang tepat sesaat tidak dapat ditentukan dengan
pasti.
3. Sistem
Tertutup dan Sistem Terbuka
Sistem tertutup (closed system)
adalah sistem yang tidak bertukar materi, informasi, atau energi dengan
lingkungan, dengan kata lain sistem ini tidak berinteraksi dan tidak
dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya reaksi kimia dalam tabung yang
terisolasi. Sedangkan sistem terbuka (open system) adalah sistem yang
berhubungan dengan lingkungan dan dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya sistem
perusahaan dagang.
4. Sistem
Alamiah dan Sistem Buatan Manusia
Sistem Alamiah (natural system) adalah
sistem yang terjadi karena alam, misalnya sistem tata surya. Sedangkan sistem
buatan manusia (human made system) adalah sistem yang dibuat oleh manusia,
misalnya sistem komputer.
Pendekatan
sistem merupakan suatu metode ilmiah, dimana proses pencapaian hasil atau
tujuan logis dari pemecahan masalah dilakukan dengan cara efektif dan efisien.
Menurut Reigeluth, pendekatan sistem adalah transaksi dari suatu urutan logis
dari operasi untuk tujuan mengubah satu atau lebih faktor dalam suatu sistem.
Penerapan pendekatan sistem ini dapat membantu mencapai suatu efek sinergitis
dimana tindakan-tindakan berbagai bagian yang berbeda dari sistem tersebut bila
dipersatukan akan memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan terpisah bagian
demi bagian. Jadi, pendekatan sistem merupakan aplikasi pandangan
sistem (system view or system thinking) dalam upaya memahami sesuatu
atau untuk memecahkan suatu permasalahan secara lebih efektif dan efisien.
Pendekatan
sistem dapat dihubungkan dengan analisis kondisi fisik (misalnya: sistem tata
surya, rakitan mesin), dapat dihubungkan dengan analisis biotis (misalnya:
jaring-jaring ekologis, koordinasi tubuh manusia), dan dapat dihubungkan dengan
analisis gejala sosial (misalnya: kehidupan ekonomis, gejala pendidikan, pola
nilai hidup). Analisis sistem sosial relatif lebih rumit dibanding analisis
sistem fisik dan sistem biotis, sistem sosial seperti sistem pendidikan pada
umumnya bersifat terbuka, yaitu suatu sistem yang mudah dipengaruhi oleh
kejadian-kejadian di luar sistem (rentan terhadap pengaruh luar). Sebagai
contoh, sistem persekolah yang mudah dipengaruhi oleh situasi/trend di
masyarakat dan kebijakan pemerintah. Karakter sistem pendidikan yang bersifat
terbuka ini menuntut konsekuensi penyelenggaraan pendidikan sekolah yang lebih
kritis dan kreatif dalam mencari alternatif pengembangan secara
berkesinambungan.
Pendekatan
sistem adalah upaya untuk melakukan pemecahan masalah yang dilakukan dengan
melihat masalah yang ada secara menyeluruh dan melakukan analisis secara sistem.
Pendekatan sistem diperlukan apabila kita menghadapi suatu masalah yang
kompleks sehingga diperlukan analisa terhadap permasalahan tadi, untuk memahami
hubungan bagian dengan bagian lain dalam masalah tersebut, serta kaitan antara
masalah tersebut dengan masalah lainnya. Keuntungan yang diperoleh apabila
pendekatan sistem ini dilaksanakan antara lain :
Jenis
dan jumlah masukan dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga
penghamburan sumber, tata cara dan kesanggupan yang sifatnya terbatas akan
dapat dihindari.
Proses
yang dilaksanakan dapat diarahkan untuk mencapai keluaran sehingga dapat
dihindari pelaksanaan kegiatan yang tidak diperlukan.
Keluaran
yang dihasilkan dapat lebih optimal serta dapat diukur secara lebih cepat dan
objektif.
Umpan
balik dapat diperoleh pada setiap tahap pelaksanaan program. Jadi berbagai
kemungkinan yang tersedia dapat diperhitungkan, sehingga tidak ada yang luput
dari perhatian. Sekalipun demikian bukan berarti pendekatan sistem tidak
mempunyai kelemahan, salah satu kelemahan yang penting adalah dapat terjebak
dalam perhitungan yang terlalu rinci, sehingga menyulitkan pengambilan
keputusan dan dengan demikian masalah yang dihadapi tidak akan dapat
diselesaikan.
Dalam
pendekatan sistem upaya pemecahan masalah secara menyeluruh dilakukan dengan
analisa sistem. Ada banyak batasan tentang analisa sistem, beberapa di
antaranya:
1. Analisa
sistem adalah proses untuk menentukan hubungan yang ada dan relevansi antara
beberapa komponen (subsistem) dari suatu sistem yang ada.
Analisa
sistem adalah suatu cara kerja yang dengan mempergunakan fasilitas yang ada,
dilakukan pengumpulan pelbagai masalah yang dihadapi untuk kemudian dicarikan
pelbagai jalan keluarnya, lengkap dengan uraian, sehingga membantu
administrator dalam mengambil keputusan yang tepat untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Langkah-langkah
yang harus dilakukan dalam suatu analisa sistem yang baik adalah :
1. Tentukan input dan output dasar
dari sistem.
2. Tentukan
proses yang dilakukan di tiap-tiap tahap.
3. Rancang
perbaikan sistem dan lakukan pengujian dengan :
- Fersibility :
cari yang memungkinkan
- Viability :
kelangsungan
- Cost :
cari yang harganya murah/terjangkau
- Effectiveness :
dengan input yang sedikit, output besar.
4. Buat
rencana kerja dan penunjukkan tenaga.
5.
Implementasikan dan penilaian terhadap sistem yang baru.
Pendekatan sistem
adalah satu kesatuan dalam:
1. a
way of thinking (filsafat sistem), yaitu sebuah paradigma baru dari
persepsi dan penjelasan, yang diwujudkan dalam gabungan, berpikir holistik,
tujuan-mencari, hubungan sebab akibat, dan proses-penyelidikan yang fokus
dengan titik sasaran dapat menggambarkan suatu rancang bangun atau unsur
pendekatan sistem yang akan bermanfaat dan mudah diaplikasikan pada tugas-tugas
manajerial dalam konteks merumuskan strategi.
2. a
method or technique of analysis (analisis sistem), yaitu pengamatan dan
pemeriksaan fenomena yang berhubungan untuk tujuan memahami cara berinteraksi
dari beberapa faktor dan mempengaruhi kinerja sebuah sistem dalam periode waktu
yang lama (Reigeluth). Analisis sistem menekankan pada metode berfikir dan
bekerja mengenai bagaimana menggunakan sumber-sumber yang tersedia secara
optimal atau pendekatan yang bermanfaat pada proses pengambilan keputusan baik
yang dilakukan pada tingkat manajerial maupun operasional.
3. a
managerial style (manajemen sistem), yaitu menekankan pada metode berfikir
dan bekerja dengan titik sasaran pada upaya pencarian manfaat. Manajemen sistem
menggunakan metode sintesis (memadukan semua unsur dalam satu kesatuan), untuk
mengintegrasikan operasi kerja melalui perencanaan operasional sehingga
jaringan hubungan antar komponen menjadi jelas atau pendekatan yang berguna
dalam pengelolaan organisasi-organisasi besar terutama dalam pengelolaan
fungsi, proyek, atau program-program.
Salah
satu model sistem yang sangat umum adalah model ”masukan-proses-hasil”, dimana
antara masukan dan hasil terdapat sebuah proses yang memiliki banyak komponen
yang saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama. Sistem Pendidikan
Nasional juga merupakan sebuah sistem yang kompleks, dimana sumber-sumber
masukan dari masyarakat ke dalam sistem pendidikan nasional dapat berupa
informasi, energi atau tenaga dan bahan-bahan.
Hal
ini dapat tergambar dari Sistem Pendidikan Nasional dalam Peraturan Pemerintah
nomor 19 tahun 2005 mengenai Standar Pendidikan Nasional di bawah ini:
Terdapat
dua jenis masukan dalam bentuk informasi, yaitu informasi produk dan informasi
operasional. Informasi produk berupa kualitas dan kuantitas peserta didik.
Kualitas peserta didik meliputi identitas, latar belakang keluarga (termasuk
sosial ekonomi), kemampuan, minat, dan sebagainya. Kuantitas peserta didik
menyangkut jumlah keseluruhan peserta didik dalam umur siap sekolah dan mempunyai
kebutuhan untuk mengikuti kegiatan pendidikan. Jumlah keseluruhan peserta didik
tersebut menurut kesatuan wilayah baik provinsi, kabupaten, kecamatan,
dan desa.
Sedangkan
informasi operasional berupa sumber daya kependidikan, penghasilan nasional,
penghasilan perkapita, ilmu, seni, teknologi, cita-cita nasional dan segala
barang dan peralatan yang dipergunakan dalam kegiatan pendidikan. Di samping
itu, juga termasuk informasi lingkungan meliputi sistem bio-sosial, sistem
sosial budaya, sosial ekonomi, dan sosial politik.
Adapun
masukan dalam bentuk energi atau tenaga adalah energi manusia yang meliputi
semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan baik peserta didik,
pendidik dan tenaga kependidikan. Di samping itu, diperlukan energi bukan
manusia berupa listrik, gas, bensin, dan sebagainya yang dapat dipergunakan
sebagai peralatan pendidikan dan administratif dalam melancarkan operasional
pendidikan dan administrasi.
Masukan
berupa bahan-bahan adalah sumber-sumber Sistem Pendidikan Nasional non-manusia
seperti kurikulum, buku pelajaran, sarana dan prasarana pendidikan dan
administrasi, teknologi pendidikan, bangunan dan sebagainya. Di samping itu,
termasuk masukan berupa penghasilan nasional dan penghasilan per kapita yang tersedia
untuk membiayai seluruh kegiatan penyelenggaraan pendidikan nasional.
Selanjutnya,
proses dalam sistem pendidikan nasional meliputi komponen-komponen sebagai
berikut:
Tujuan
pendidikan, yaitu sesuatu hal yang diharapkan dapat dicapai sepanjang proses.
Tujuan pada akhir keseluruhan proses adalah tujuan umum atau tujuan nasional
pendidikan. Sedangkan untuk sampai pada akhir proses, terdapat sederatan tujuan
yang disebut tujuan khusus. Tujuan-tujuan ini berfungsi sebagai pengarah
operasional kegiatan pendidikan.
Organisasi
Pendidikan, yaitu keseluruhan tatanan hubungan antar bagian-bagian dan antar
unsur-unsur dalam sebuah kesatuan sistem pendidikan nasional.
Masa
Pendidikan, yaitu jangka waktu kelangsungan seluruh kegiatan di sebuah satuan
pendidikan.
Prasarana
Pendidikan, yaitu segala hal yang merupakan penunjang terselenggaranya proses
pendidikan dalam sistem pendidikan nasional.
Sarana
Pendidikan, yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat pendidikan
dalam mencapai tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan efektivitas dan
efisiensi proses pendidikan.
Isi
Pendidikan, yaitu semua hal atau pengalaman yang perlu dipelajari oleh peserta
didik.
Pendidik
dan Tenaga Kependidikan, yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan
dan pelaksanaan pendidikan (guru, pustakawan, teknolog pendidikan, dan
sebagainya).
Peserta
didik, yaitu semua anak, remaja, dan orang dewasa yang terlibat dalam proses
pendidikan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahwa
pendidikan merupakan sesuatu yang tidak asing bagi kita, terlebih lagi karena
kita bergerak di bidang pendidikan. Juga pasti kita sepakat bahwa pendidikan
diperlukan oleh semua orang. Bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan ini
dialami oleh semua manusia dari semua golongan.
0 komentar:
Posting Komentar