BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Perilaku
Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku
tingkat individu dan tingkat kelompok dalam suatu organisasi serta
dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun
organisasi). Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang
organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang
mempelajari organisasi,dengan memanfaatkan metode-metode
dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi.
Disiplin-disiplin
lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang sumber daya manusia dan psikologi industri. Organisasi dalam
pandangan beberapa pakar seolah-olah menjadi suatu “binatang” yang berwujud
banyak, namun tetap memiliki kesamaan konseptual. Atau dengan kata lain,
rumusan mengenai organisasi sangat tergantung kepada konteks dan perspektif
tertentu dari seseorang yang merumuskan tersebut.
Setiap
manusia mempunyai tujuan yang berbeda dalam hidupnya, karena pengaruh
pengetahuan dan pengalamannya yang berbeda. Namun setiap manusia akan sama
dalam satu hal yaitu ingin mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Perilaku
organisasi adalah suatu sudi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia
dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu. Pada hakikatnya meliputi
aspek yang ditimbulkan dari pengaruh manusia terhadap organisasi. Kerangka
dasar pemikiran ilmu perilaku ini didukung paling sedikit dua komponen, yakni
individu-individu yang berperilaku dan organisasi formal sebagai wadah dari
perilaku tersebut. Ciri peradaban manusia yang bermasyarakat senantiasa
ditandai dengan keterlibatannya dalam suatu organisasi tertentu. Itu berarti
bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri untuk tidak terlibat pada kegiatan bermasyarakat
maupun organisasi.
Perilaku
manusia dapat ditelusuri dari awal periode sejarah, dimulai dari spekulasi
mengenai fisik manusia yang dapat kita jumpai melalui buah karya Filosof Yunani
Plato. Filosof ini selalu membicarakan mengenai jiwa manusia yang dibagi atas 3
bagian, yakni: (1) Philosophic, yang merupakan suatu alat untuk mencapai ilmu
pengetahuan dan pengertian, (2) Spirited, yakni suatu aspek dari jiwa manusia
ini yang berusaha untuk mencari kekuasaan dan ambisi, (3) Appetite, yakni
keinginan untuk memenuhi selera seperti misalnya makan, minum, seks, dan uang.
Plato
percaya bahwa salah satu dari tiga bagian ini bisa mendominasi tingkah laku
manusia, dan karena itu ia menggolong-golongkan manusia itu atas tiga tipe,
yakni: filosofis, ambisius, dan pencinta keberuntungan (lovers of gaini).
Walaupun minat Plato dalam perilaku manusia itu ditekankan pada filosofinya,
namun analisisnya memberi pengaruh besar terhadap pemikir-pemikir dalam
mendefinisikan asumsi-asumsinya mengenai bagaimana pemerintah atau organisasi
negara ini dibentuk dan dibina. Kemudian, pada awal abad ke-20, muncul konsep
berbagai konsep mulai dari manajemen ilmiah, klasik, hubungan manusiawi, hingga
sampai pada perilaku organisasi modern.
1.2
Rumusan masalah
1. Bagaimana
Perkembangan Ilmu Perilaku Itu Terjadi ?
2. Apa
Landasan Perilaku Bagi Manajemen yang Sistematis ?
3. Apa
yang Dimaksud Dengan Hubungan Antar Manusia ?
1.3
Tujuan dan manfaat
Tujuan
a. Untuk
Mengetahui Dinamika Disiplin Ilmu Prilaku
b. Untuk
Mengetahui Landasan Perilaku Manajemen yang Sistematis
c. Untuk
Mengetahui Apa yang Dimaksud dengan Hubungan Antar Manusia
Manfaat
Bagi
kami manfaatnya yakni menambah wawasan serta dapat memahami tentang jangkauan
historis organisasi dalam aspek :
·
Dinamika disiplin ilmu perilaku
·
Landasan prilaku bagi manajemen yang
sistematis
·
Hubungan antar manusia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan Ilmu Prilaku
A. Pengertian Secara Epistemologi
Dari
sudut biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang
bersangkutan yang dapat di amati secara langsung maupun tidak langsung.
Menurut
soekidjo,N, 1993. perilaku adalah suatu aktifitas amanusia itu sendiri.
Menurut
robert kwick, 1974. perilaku ádalah tindakan atau perilaku suatu organisme yang
dapat amati dan bahkan dapat di pelajari
Menurut
sri kusmiyati dan desminiarti 1990, perilaku ádalah proses interaksi individu
dengan lingkungannya sebagai manifestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup.
Apabila ditarik garis besar dari berbagai arti diatas
baik dari sudut pandang biologis maupun menurut para ahli bahwa esensinya
prilaku manusia adalah aktifitas yang timbul karena adanya stimulus dan respon
serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.
B. Ciri-ciri
prilaku manusia yang membedakannya dengan makhluk lain
Menurut
Sarlito Wirawan Sarwono (1983) dalam bukunya Pengantar Umum Psikologi, ciri-ciri umum prilaku mannusia adalah
kepekaan sosial, kelangsungan prilaku, orientasi pada tugas, usaha dan
perjuangan tiap individu adalah unik. Secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut
:
a. Kepekaan
sosial
Artinya kemampuan manusia untuk
dapat menyesuaikan prilakunya sesuai dengan harapn orang lain. Manusia adalah
mahluk sosial yang dalam hidupnya perlu sahabat dan bekerjasama dengan orang
lain. Prilaku manusia adalah situasional, artinya prilaku seseorang akan
berbeda pada situasi yang berbeda.
b. Kelangsungan
prilaku
Artinya antara prilaku yang satu
ada kaitannya dengan perilaku yang lain, prilaku yang sekarang adalah
kelanjutan prilaku yang baru dan seterusnya. Jadi sebenarnya prilaku manusia
tidak pernah berhenti pada suatu saat.
c. Orientasi
pada tugas
Artinya bahwa setiap prilaku
manusia selalu memiliki orientasi pada suatu tugas tertentu. Apabila tugas
disana diartiakan kerja maka, individu yang bekerja berorientasi untuk
menghasilkan sesuatu.
d. Usaha
dan perjuangan
Usaha dan perjuangan manusia telah
dipilih dan ditentukan sendiri, serta tidak akan memperjuangkan sesuatu yang
memang tidak ingin diperjuangkan.
e. Tiap-tiap
individu manusia adalah unik
Unik disini mengundang arti bahwa
manusia yang satu berbeda dengan manusia yang lainnya tidak ada manusia yang
sama persis di muka bumi ini, walaupun ia dilahirkan kembar. Manusia mempunyai
ciri-ciri, watak, tabiat, keperibadian dan motivasi tersendiri yang
membedakannya dengan manusia lainya.
C. Proses
pembentukan perilaku
a. Perilaku
manusia terbentuk karna adanya kebutuhan. Menurut Abraham Harold Maslow,
manusia memiliki Lima kebutuhan dasar, yaitu :
1) Kebutuha
filosofis/biologis, yang merupaka kebutuhan pokok utama. Apabila kebutuhan ini
tidak terpenuhi akan terjadi ketidak seimbangan fsiologis. Misalnya, kekurangan
O2 yang menimbulkan sesak napas dan kekurangan H2O dan elektrolit yang
menyebakan dehidrasi.
2) Kebutuha
rasa aman
3) Kebutuhan
mencintai dan dicintai
4) Kebutuhan
harga diri
5) Kebutuhan
aktualisasi diri
Tingkat
dan jenis kebutuhan tersebut satu dan lainnya tidak dapat dipisahkan karna
merupakan satu kesatuan atau rangkaian walaupun pada hakekatnya kebutuhan
fsiologis merupak factor yang dominan untuk kelangsungan hidup manusia.
Kebutuhan,
tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu dan yang lain, misalnya memenuhi
kebutuhan fisiologis dulu kemudian rasa aman dan setereusnya. Prilaku manusia
dalam memenuhi kebutuhan adalah secara simultan.
b. Motivasi
Motivasi adalah dorongan penggerak untuk mencapai
tujuan tertentu, baik disadari ataupun tidak disadari. Motivasi dapat hadir
dari dalam diri individu ataupun dari lingkungan. Motivasi yang terbaik adalah
motivasi yang timbul dari diri individu ( intrinsic ) bukan pengaruh lingkungan
( ekstrinsik )
c. Factor
perangsang dan penguat
Untuk menguatkan motivasi berperilaku dapat
dilakukan dengan empat cara berikut :
·
Memberi hadiah dalam bentuk penghargaan
pujian, piagam, hadiah, promosi pendidikan dan jabatan.
·
Kompetisi atau persaingan yang sehat
·
Mempertegas tujuan
·
Memberi informasi keberhasilan kegiatan
yang telah dilakukan, untuk mendorong agar lebih berhasil
I.
Pengaruh sikap dan kepercayaan
Sikap seseorang akan sangat mempengaruhi perilaku
baik sikap positif maupun negatif.
D. Faktor
yang mempengaruhi perilaku seseorang
a. Faktor
genetik atau faktor endogen
Tingkah laku manusia adalah corak
kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam dirinya.
Faktor-faktor intern yang dimaksud antara lain jenis ras/keturunan, jenis kelamin,
sifat fisik, kepribadian, bakat, dan intelegensia. Faktor-faktor tersebut akan
dijelaskan secara lebih rinci seperti di bawah ini.
a) Jenis,Ras/Keturunan
Setiap ras yang ada di dunia memperlihatkan tingkah laku yang khas. Tingkah
laku khas ini berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri.
Ciri perilaku ras Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita,
menonjol dalam kegiatan olah raga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang
bergotong royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual.
Demikian pula beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
b) JenisKelamin
Perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian,
melakukan pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini
bisa dimungkikan karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian
tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang
laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
c) SifatFisik
Kretschmer Sheldon membuat tipologi perilaku seseorang berdasarkan tipe
fisiknya. Misalnya, orang yang pendek, bulat, gendut, wajah berlemak adalah
tipe piknis. Orang dengan ciri demikian dikatakan senang bergaul, humoris,
ramah dan banyak teman
d) Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya
yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang
baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak
dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia
itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh
terhadap perilaku sehari-harinya
e) Intelegensia
Intelegensia adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak
secara terarah dan efektif. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, tingkah
laku individu sangat dipengaruhi oleh intelegensia. Tingkah laku yang
dipengaruhi oleh intelegensia adalah tingkah laku intelegen di mana seseorang
dapat bertindak secara cepat, tepat, dan mudah terutama dalam mengambil
keputusan
f) Bakat
Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu
latihan khusus mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus,
misalnya berupa kemampuan memainkan musik, melukis, olah raga, dan sebagainya
b. Faktor
Eksternal
a) Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses
belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian
pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang
berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan
rendah.
b) Agama
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai
yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
c) Kebudayaan
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia.
Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang
hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah
laku orang Papua.
d) Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan
fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan
perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan
bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan
lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
e) SosialEkonomi
Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas
yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini
akan mempengaruhi perilaku seseorang
E. Bentuk
prilaku
Prilaku
dapat diberi batasan sebagai suatu tanggapan individu terhadap rangsangan yang
berasal dari dalam maupun dari luar diri individu tersebut. Secara garisbesar
bentuk prilaku ada dua macam yaitu :
Ø Prilau
pasif ( responsif internal )
Prilaku yang sifatnya masih tertutup, terjadi dalam
diri individu dan tidak dapat di amati secara langsung. ( berfikir,
berfantasi,berangan-angan dll )
Ø Perilaku
aktif ( respons eksternal )
Perilaku
yang sifatnya terbuka, perilaku yang aktif adalah prilaku yang dapat diamati
langsung, berupa tindakan yang nyata.
2.2
Landasan Prilaku bagi Manajemen yang Sistematis
A.
Landasan teoritis perilaku etis
Teori
dan praktik etis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karna teori
memberikan landasan dan alasan mengapa sebuah tindakan boleh dilakukan atau
tidak boleh dilakukan.
Ada
beberapa istilah yang berkaitan dengan prilaku etis manusia: etika, moral,
norma dan estetika.
1) Pengertian
secara epistemologi
a. Etika
Dr. Kies Berten ( 2004 ) dalam buku Etika menjabarkan beberapa pengertian
tentang etika dari tinjauan etimologi. Menurut K. Barten, berasal dari kata
yunani kuno, yakni ethos ( bentuk kata tunggal ) yang berarti tempat tinggal,
padang rumput, kandang, kebiasaan atu adat, akhlak, watak perasaan, sikap dan
cara berfikir.namun demikian etika dimngerti secara umum sebagai ilmu tentang
apa yang bisa kita lakukan. Etika adalah ilmu adat kebiasaan manusia ( BDK. K.
Barten, Etika, Sri Filsafat Atmajaya, 15 Gramedia, Jakarta, halaman 4 )
Dalam kamus umum bahasa Indonesia (
W.J.S Poerwadarminto, 2002 ) etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas
akhlak ( moral ). Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1988 etika dimengerti sebagai. Pertama, ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang hak
dan kewajiban moral ( ahlak ). Kedua, etika merupakan sekumpulan asas atau
nilai yang berkenaan dengan ahlak atau kode etik. Ketiga, etika dimengerti
sebagai nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atu kelompok.
Pengertian lain lagi mengenai etika
menurut Prof. Dr. Frans Magnis Sueseno mengartikan etika sebagai ilmu yang
mencari orientasi ( ilmu yang memberi arah dan pijakan pada tindakan manusia ).
Berlandakan pengertian-pengertian
diatas kita dapat mengartikan etika menjadi tiga bagian: Pertama, etika
merupakan system nilai, yakni nilai-nilai atau norma-norma moral yang menjadi
pegangan ( landasan, alasan dan orientasi hidup seseorang atau kelompok orang
dalam mengatur tingkah lakunya. Kedua, etika adalah kumpulan asas-asas akhlak (
moral ) atau semacam kode etik. Ketiga, etika merupakan ilmu tentang apa yang
baik dan apa yang buruk. Hal ini terjadi apabila nilai-nilai, norma-norma
moral, asa-asa ( akhlak ) atau kode etik yang terdapat dalam suatu masyarakat
menjadi bahaan refleksi ( pemikiran ) secara menyeluruh ( holistic ),
sistematis dan metodis.
b. Moral
Secara etimologis kata moral
berassal dari bahasa latin Mos ( Tunggal ) atau Moris ( jamak )yang berarti
kebiasaan atau adat istiadat. Dengan demikian kata etika dan moral memiliki
arti yang sama, hanya asal bahasanya saja yang berbeda. Kesamaan arti dari
kedua kata itu berhubungan dengan adat istiadat, nilai- nilai atau norma-norma
dan orientasi hidup seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. (
BDK. K. Barten, op.cit, Hal. 7 ).
c. Estetika
Secara sederhana estetika adalah
ilmu yang membahas tentang keindahan, Estetika disebut juga dengan filsafat
keindahan ( Philosophy of Beauty ), yang berasal dari kata aisthetika atau
aesthesis ( Yunani ) yang artinya hal-hal yang dapat dicerap dengan indera atau
cerapan indera. Estetika membahas hal yang berkaitan dengan refleksi kritis
terhadap nilai-nilai atas sesuatu yang disebut indah atau tidak indah. Sekitar
500-300 SM, pemikir dari zaman Yunani, seperti Socrates , Plato, Aristoteles,
Plotinus, dan St. Agustinus ( di Zaman kemudian ). Mereka membicarakan seni
dalam kaitannya dengan filsafat mereka tentang apa yang disebut “Keindahan”.
Pembahasan tentang seni masih dihubungkan dengan pembahasan tentang keindahan.
Inilah sebabnya pengetahuan ini disebut filsafat keindahan, termasuk di
dalamnya keindahan alam dan keindahan karya seni. Seni (art) aslinya berarti
teknik, pertukangan, keterampilan yang dalam bahasa Yunani Kuno sering disebut
techne. Pada pertengahan abad ke XVII, di Eropa dibedakan keindahan umum
(termasuk alam) dan keindahan karya seni atau benda seni. Dari sinilah muncul
fine art atau hight art ( seni halus dan seni tinggi ), yang dibedakan dengan
karya-karya seni pertukangan (craft). Seni pada zaman itu dikategorikan sebagai
artifact atau benda hasil buatan manusia. Artefak pada dasarnya dapat
dikategorikan menjadi tiga golongan, yakni benda-benda yang berguna tetapi
tidak indah, kedua benda-benda yang berguna dan indah, dan yang ketiga,
benda-benda yang indah tapi tak ada kegunaan praktisnya. Artefak jenis yang
ketiga inilah yang dibisarakan dalam estetika. Pada tahun 1750 istilah estetika
diperkenalkan oleh filsuf bernama A.G. Baumgarten (1714-1762). Istilah estetika
ini diambil dari bahasa Yunani Kuno, aistheton, yang berarti “kemampuan melihat
melalui penginderaan”. Baumgarten menamakan seni itu sebagai pengetahuan
sensoris, yang dibedakan dengan logika yang dinamakannya pengetahuan
intelektual. Tujuan estetika adalah keindahan, sedang tujuan logika adalah
kebenaran. Keindahan merupakan pengertian yang di dalamnya tercakup sebagai
aktivitas kebaikan.
B.
Manajemen yang sistematis
Pengertian dan peranan manajemen
Manajemen dapat di artikan sebagai ilmu dan seni
tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai
tujuan secara efektif dan efisien. Para ahli ekonomi umumnya mempunyai
pengertian yang berbeda tantang manajemen, berikut pengertian dengan demikian
sebenernya manajemen itu hampir selalu ada pada setiap kegiatan manusia sebab
manusia akan selalu berusaha berkumpul dan bekerja sama.
Fungsi dan Proses Manajemen
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang
selalu ada dan melekat dalam proses manajemen yang akan dijadiakan acuan oleh
manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen
dapat dilakukan di perusahaan manapun. Pada fungsi manajemen tersebut terdapat
beberapa pendapat mengenai fungsi manajemen:
1.
George R. Terry
Fungsi
manajemen: planning,organizing, actuating, dan controlling.
2.
Harold Kontz dan Cyrill O’Donnel
Fungsi
manajemen: planning, organizing, staffing, directing, dan
conrtolling.
3.
Henry Fayol
Fungsi manajemen: planning, organizing, commanding, coordinating
dan controlling
Berikut ini adalah garis besar dari keseluruhan teori yang telah
dijabarkan di atas kita dapoat menyimpulkan tiga fungsi manajemen yang sangat
umum digunakan yaitu perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan.
1. Perencanaan (planning)
Perencanaan adalah kegiatan pertama seorang manajer
dalam rangka melaksanakan fungsi manajemen agar dapat membuat
keputusan yang teratur dan logis sebelumnya harus ada keputusan terlebih dahulu
sebagai petunjuk langkah-langkah selanjutnya. Keputusan itu mencakup hal-hal
berikut:
·
Analisis, yaitu perhitungan bagaimana perkiraan
dimasa depan.
·
Sasaran, yaitu perincian singkat dan tugas mengenai
sasaran yang ingin dicapai,menetapkan hasil yang diinginkan.
·
Kebijakan, yaitu rumusan cara-cara kerja yang akan
dilaksanakn.
·
Program, yaitu urutan langkah-langkah yang akan
dilakukan untuk mencapai sasaran.
·
Skedul waktu, yaitu penetapan waktu atau jadwal yang
harus dilakukan.
·
Anggaran keuangan, yaitu penetapan sumber-sumber
keuangan yang digunakan untuk melaksanakan proyek yang direncanakan.
Planning yang efektif harus memenuhi 5 W 1 H:
- What : apa tujuan yang hendak dicapai
- Why : mengapa hal tersebut perlu
dilakukan.
- Where : dimana hal tersebut akan dilakukan.
- When : kapan hal tersebut akan dilakukan
- Who : bagaimana cara melakukannya
2. Fungsi perencanaan bermanfaat untuk hal-hal berikut:
a. Mengimbangi ketidakteraturan dari perusahaan.
b. Memusatkan perhatian pada sasaran.
c. Memperoleh pengelolaan yang ekonomis dan dan efektif
d. Memudahkan pengawasan.
e. Mendorong orang memberikan prestasi.
3. Pelaksanaan (Actuating)
Actuating atau tahap pelasanaan merupakan penerapan
atau implementasi dari rencana yang telah ditetapkan dan
diorganisasikan.Actuating merupakan langkah-langkah pelaksanaan rencana didalam
kondisi nyata yang mekibatkan segenap anggota organisasi untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Actuating adalah menggerakkan orang-orang agar mau
bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadarab secara bersama-sama untuk
mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini dibutuhkan
kepemimpinan (Leadership).
Leadership adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang
lain agar mau bekerja dengan tulus sehingga pekerjaan berjalan lancar dan
tujuan dapat tercapai.
4. Pengawasan (Controlling)
Pengawasan adalah fungsi manajemen yang tak kalah
pentingnya, karna didalam pengawasan dilakukan koreksi. Pengawasan diperlukan
untuk melihat apakah rencana dilaksanakan sesuai dengan tujuan. Tujuan
pengawasan adalah untuk mencegah atau untuk memperbaiki kesalahan,penyimpangan,
penyelewengan dan kegiatan lainnya yang tidak sesuai dengan rencana. Didalam
pengawasan paling tidak dilakukan tiga proses, yaitu:
·
Melakukan pengukuran terhadap hasil kerja yang telah
dicapai.
·
Melakukan perbandingan hasil kerja yang telah
dicapai dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
·
Melakukan koreksi terhadap hasil kerja yang meliputi
pembiayaan dan efesiensi kerja.
2.3 Hubungan Anatar Manusia
Manusia
adalah makhluk sosial sekaligus makhluk individual. Sebagai makhluk sosial,
manusia memiliki motif untuk mengadakan hubungan dan hidup bersama orang lain
yang kemudian disebut dorongan sosial.
1) Definisi
Menurut BONNER, hubungan antara dua
atau lebih individu manusia dan perilaku individu yang satu mempengaruhi,
mengubah, dan memperbaiki perilaku individu lain atau sebaliknya.
·
HAM (arti luas) : interaksi antara
seseorang dengan orang lain dalam segala situasi dan dalam semua bidang
kehidupan, bisa dilakukan di rumah, di jalan, di dalam kendaraan umum ( misal
bis, kereta api ) dan sebagainya.
·
HAM (arti sempit) : interaksi
antara seseorang dengan orang lain. Akan tetapi interaksi di sini hanyalah
dalam situasi kerja dan dalam organisasi kerja ( work organization ).
a. Komunikasi
Antar Manusia/Transaksional
·
transaksional dimana terjadi interaksi
yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi antar individu.
·
masing-masing individu dapat sebagai
pengirim dan penerima pada waktu yang sama
·
Gangguan mispersepsi (komunikasi tidak
efektif)
b. Komunikasi
Antar Manusia Merupakan Multidimensi
·
mengandung dimensi isi dan dimensi
berhubungan
·
Dimensi Isi berarti bahwa komunikasi
adalah proses menyampaikan informasi menggunakan bahasa yang mudah
·
Dimensi berhubungan terkait dengan
status hubungan yang terjalin antara pengirim dan penerima.
2)
Faktor-Faktor Yang Mendasari Interaksi Sosial
Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (2000)
·
Kedekatan Geografis (Proksimitas)
:intensitas sering mempengaruhi interaksi sosial.
·
Kemiripan (Similarity) : hal usia,
pendidikan, latar belakang etnik, agama, ras, status sosial ekonomi.
·
Situasi
o
Rasa suka timbal balik yang dipersepsi
hubungan timbal balik
o
Perubahan dalam penghargaan diri
membawa pengaruh peningkatan harga diri.
o
Kecemasan mengubah kriteria dlm memilih
teman
o
Isolasi naluri manusia utk berinteraksi
o
Kebutuhankebutuhan yang saling
melengkapi
3) Faktor-Faktor
Yang Menentukan Interaksi Sosial
I.
Adanya rasa percaya
sikap mengandalkan perilaku orang lain untuk mencapai tujuan yang
dikehendaki tidak akan berjalan baik dan lancar bila tidak ada rasa
saling percaya.
faktor yang berpengaruh :
·
Menerima, tanpa menilai , mengkritik
·
Empati
II.
Sikap suportif
sikap yang mengurangi sikap melindungi diri (defensive) dalam komunikasi
(mau menerima, jujur dlm interaksi)
Jack R. Gibb, mengemukakan :
·
Evaluasi vs diskripsi
Evaluasi adalah penilaian terhadap orang lain (pujian, kecaman ) deskripsi
adalah penyampaian penjelasan tentang perasaan dan persepsi seorang tanpa ada
unsur penilaian
·
Kontrol vs orientasi masalah
orientasi masalah : upaya untuk memecahkan masalah dengan mengkomunikasikan
persoalan kepada orang lain untuk bekerjasama mencari pemecahannya.
·
Strategi vs spontanitas
strategi : cara yang digunakan utk mempengaruhi orang lain.
·
Spontanitas menunjukkan respon langsung dan
menunjukkan kejujuran seseorang.
strategi : cara yang digunakan utk mempengaruhi orang lain.
·
Netralitas vs empati
Netralitas : memperlakukan orang lain tidak sebagaimana mestinya, acuh
tak acuh, empati merupakan sikap memahami orang lain
·
Superior vs persamaan
superior akan menimbulkan orang lain menutup diri sikap persamaan, tidak
membeda-bedakan
·
Kepastian vs provinsialisme
Seseorang yang merasa memiliki kepastian umumnya bersifat dogmatis, ingin
menang sendiri provinsialisme : kesediaan meninjau kembali pendapat orang
lain
III.
Sikap terbuka
Sikap
terbuka amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang
efektif.
2)
Bentuk interaksi sosial
·
Kerja sama ialah suatu bentuk interaksi
sosial dimana orangorang atau kelompok-kelompok bekerja sama Bantumembantu
untuk mencapai tujuan bersama
·
Persaingan
adalah suatu bentuk interaksi sosial dimana orangorang atau kelompok- kelompok
berlomba meraih tujuan yang sama.
·
Pertentangan
adalah bentuk interaksi sosial yang berupa perjuangan yang langsung dan sadar
antara orang dengan orang atau kelompok dengan kelompok untuk mencapai tujuan
yang sama.
·
Persesuaian
ialah proses penyesuaian dimana orang- orang atau kelompok- kelompok yang
sedang bertentangan bersepakat untuk menyudahi pertentangan tersebut atau
setuju untuk mencegah pertentangan yang berlarut- larut dengan melakukan
interaksi damai baik bersifat sementara maupun bersifat kekal. Selain
itu akomodasi juga mempunyai arti yang lebih luas yaitu, penyesuaian antara
orang yang satu dengan orang yang lain, antara seseorang dengan kelompok,
antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
·
Perpaduan adalah suatu proses sosial
dalam taraf kelanjutan, yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan
yang terdapat di antara individu atau
kelompok. Dan juga merupakan usaha- usaha untuk mempertinggi kesatuan
tindakan, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan
bersama.
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Jangkauan
Historis prilaku dalam organisasi sangat kompleks pembahasannya karna pada
prinsipnya prilaku itu mencakup hakikat dari diri seseorang dan kelompok orang
( organisasi ) sehingga diperlukan pembahasan yang mendetail untuk sampai
kepada tingkat pemahaman yang radik dan komperhensif.
Seiring
dengan dinamika sosial masyarakat yang disetiap kurun dan zamannya mempunyai
perubahan. Begitupun disiplin ilmu perilaku yang sama halnya mempunyai
perubahan karna, pada prinsipnya ilmu itu berkembang dan dapat dikembangkan
secara subjektif. Esensinya prilaku merupakan bentuk penjabaran dari etika dan
moral yang keduanya sangat terintegrasi satu samalainnya sehingga menjadi acuan
dalam setiap aktifitas individu ataupun kelompok dalam menjalani kehidupannya.
Landasan
prilaku pula yang pada akhirnya melahirkan suatu system di dalam kehidupan
masyarakat karna manusia sebagai human society yang menciptakan tataperadaban
dan tataperadaban itu tercipta oleh prinsip bahwa manusia mempunyai hubungan
dengan sesamanya..
Artinya prilaku
yang berlandaskan nilai nilai moral menjadi modal awal bagi manusia ketika
bersentuhann dengan konsep hubungan antar sesame manusia, dengan hubungan antar
manusia itu mengharusskan adanya interaksi didalam pelaksanaannya karna pada
prinsipnya manusia dalam konteks sosial merupakan human relationshif.
Bahkan konteks
hubungan antar manusia termaktub didalam prinsip individu sebagai makhluk.
Yaitu Selain hubungan spiritual dengan sang khaliq, hubnugan manusia dengan
alam semesta secara keseluruhan dan terakhir hubungan antar manusia menjadi
sangat penting karna posisi yang begitu strategis yaitu sebagai penyeimbang
antara hubungan dengan allah dan alam semesta, tentu dengan demikian manusia menempatkan
diri sebagai subjek.
3.2
Saran
Berdasarkan uraian
di atas maka, pada prinsipnya manusia memegang peranan penting dalam segala
aspek baik itu secara intrinsic maupun ekstrinsik. Prilaku merupakan bagian
dari dalam dan luar manusia itu sendiri. Maka sangat dipandang perlu bagi
setiap individu untuk dapat memahami dirinya sendiri, memahami berbagai
disiplin ilmu terkhusus apa yang sedang kita bahas saat ini yaitu tentang
prilaku. Karna berpikir dan bertindak menandakan kita ada.